Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono.

Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono.

Rabu, 30 November 2016

Oleh Erik Purnama Putra

Eliza dan Niken tampak menikmati permainan dakon. Keduanya duduk di lantai salah satu pojok Perpustakaan Anak Bangsa. Dua remaja tersebut merupakan pengunjung perpustakaan yang memiliki tujuan bermain-main. Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Eko Cahyono tidak mempermasalahkan Eliza dan Niken yang tidak membaca buku. Bangunan perpustakaan yang didirikan pada 2011, ini memang diseting sebagai tempat bermain sekaligus menimba ilmu. Karena itu, di perpustakaan berukuran sekitar 4×8 meter ini tersedia pula permainan ular tangga dan puzzle yang bisa dimanfaatkan anak-anak dan kalangan remaja.

Eko mengaku, senang dengan hadirnya dua anak tersebut yang menghabiskan waktu di perpustakaan daripada harus bermain di luar. Menurut Eko, kedua orang tua remaja tersebut juga merasa tenang kalau anaknya seharian menghabiskan waktunya di perpustakaan yang dikelolanya. “Orang yang datang ke perpustakaan ini tidak harus membaca buku. Walaupun cuma bermain saja, saya sudah senang. Rata-rata ada 50 anak-anak sehari yang ke sini,” kata Eko saat menerima kedatangan penulis, belum lama ini.

Perpustakaan Anak Bangsa terletak di Desa Sekarpuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Butuh waktu sekitar sejam perjalanan dari pusat Kota Malang untuk mencapai lokasi. Meski berada di tengah perkampungan warga dan dikelola secara perorangan, jangan kaget kalau koleksi perpustakaan ini sangat lengkap. Puluhan ribu buku dengan berbagai tema terpampang rapi di rak buku. “Total ada 56 ribu lebih koleksi buku saya, yang ditata dan dipajang ini sekitar 20 ribuan. Gak muat Mas kalau semua dikeluarkan,” kata Eko.

Dia menuturkan, perpustakaan yang dirintisnya dimulai pada 1998, ketika ia baru saja terkena PHK dari perusahaan konveksi pada masa krisis moneter. Kala itu, ia hanya memiliki koleksi majalah bekas yang dikumpulkannya dari hasil beli sendiri maupun teman-teman. Eko mengaku, pada awalnya ia juga asing dengan buku bacaan, apalagi yang baru keluaran penerbit.

Namun, karena memiliki dorongan untuk mengumpulkan buku untuk mengisi waktu kesehariannya, Eko kemudian memilih langkah door to door dengan meminta buku kepada siapa pun. “Saya minta ke kampus, perpustakaan, dan orang yang beli buku di depan toko buku. Minimal koran bekas dan buku paket pelajaran. Sampai hari ini, saya masih mengambil buku dan saya mintai baik-baik,” kata laki-laki lulusan SMA ini.

Sejak 2000-an, ia mulai concern di bidangnya untuk mengumpulkan buku sebagai modal merintis perpustakaan. Dia mengingat, titik balik perjuangannya itu mulai menampakkan hasil positif pada 2005, di mana semakin banyak pihak-pihak yang berkenan memberikan buku kepadanya. Setelah dikenal di kalangan tertentu, ia merasakan, semakin mudahnya mendapatkan buku. Seperti ketika ada pihak perpustakaan yang memberi buku maupun figur publik yang berkenan membagikan buku koleksinya.

“Awalnya susah, apalagi warga sini, desa banget, masih asing dengan buku. Ada 400 majalah dan cerpen (saat awal berdiri), saya nyari-nyari. Setelah sembilan kali pindah, saya beli tanah dan berdirilah perpustakaan yang sekarang ini,” katanya.

Eko mengatakan, saat ini ada sekitar 8.000 orang yang terdaftar memiliki kartu anggota Perpustakaan Anak Bangsa dengan jaringan 70 perpustakaan di Malang, Kediri, Pasuruan, Trenggalek, Surabaya, hingga Sumenep. Berdasarkan catatan yang dimilikinya, rata-rata peminjam buku berasal dari satu desanya hingga beda kecamatan. Tidak hanya anak-anak dan siswa sekolah, sambung dia, ada pula guru SD, SMP, dan SMA yang juga tercatat pernah meminjam buku.

Bahkan, ada beberapa pedagang bakso dan es yang meminjam buku kepadanya untuk dipinjamkan lagi kepada konsumen mereka. Eko tidak mempermasalahkan hal itu dan malah bangga buku koleksinya semakin dibaca banyak orang. “Pinjem di sini bebas, tidak ada aturan. Pengunjung suka isi-isi sendiri, pokoknya siapa yang datang boleh baca buku. Kalau dikembalikan silakan saja, kalau bukunya ndak balik, berarti bukunya itu akhirnya bertemu dengan pembacanya. Saya senang saja buku bertemu pembaca,” ucap Eko.

Eko menjelaskan, setelah menunjukkan perkembangan luar biasa sejak 10 tahun belakangan, keberadaan Perpustakaan Anak Bangsa mampu mengubah persepsi masyarakat sekitar dalam memandang pendidikan. Dia masih ingat, dulu hampir tidak ada warga di desanya yang suka membacanya. Sekarang, kondisi itu berbalik 180 derajat.

Dia merujuk fakta saat belasan tahun lalu, hanya hitungan jari yang mengenyam pendidikan universitas, sekarang ini sangat banyak sekali lulusan SMA yang dikuliahkan orang tuanya. Pun tidak sedikit para pengunjung Perpustakaan Anak Bangsa yang tiba-tiba ingin melanjutkan pendidikan dengan mengikuti Kejar Paket C. Eko akhirnya merasa puas gerakan literasi yang digawanginya mendapatkan respon positif dari warga sekitar dan daerah lain maupun pengunjung perpustakaan.

“Saya ngomporin mereka. Dulu orang-orang berpikir kuliah tidak bisa menghasilkan uang. Orang-orang sini sekarang sudah bisa berpikir jangka panjang, anaknya harus kuliah. Saya benar-benar merasakan perubahaan besar (di masyarakat),” kata Eko.

Bahkan yang membuatnya bangga, tidak sedikit anak-anak di kampungnya yang sudah melahap puluhan hingga ratusan buku koleksinya. Pipit misalnya, kata dia, menjadi anggota teraktif yang sudah membaca ratusan koleksi perpustakaannya. Dari  awalnya hanya membaca majalah Bobo hingga saat ini melahap habis novel kelas berat selama belasan tahun menjadi anggota perpustakaan. Menurut dia, menjadi fenomena langka ada cukup banyak anak desa yang memiliki semangat membaca tinggi, yang itu terjadi berkat hadirnya Perpustakaan Anak Bangsa.

Dia melanjutkan, kepuasan paling besar yang didapatkannya adalah terjadinya cara pandang dalam diri pengunjung setelah membaca buku koleksi perpustakaan. Eko mencotohkan, ada warga sekitar yang lama terkena stroke, tiba-tiba bisa sembuh setelah membaca buku pengobatan alternatif. Ada remaja pengangguran yang membaca buku soal makanan, sekarang orang itu jadi juru masak setelah belajar secara otodidak. Ada orang yang sekarang sukses memiliki tambak dengan beternak lele setelah terinpirasi buku bacaan bagaimana cara menghasilkan uang.

Eko melanjutkan, ada juga siswa yang selama ini nilai rapornya termasuk yang terbawah, namun tiba-tiba bisa masuk rangking tiga besar setelah membaca buku yang memotivasinya. Capaian siswa tersebut sampai mengagetkan guru di sekolahnya yang bertanya kepadanya. Kisah lainnya ada warga sekitar yang akhirnya bisa mendapatkan penghasilan dari menjahit setelah membuka buku yang mengulas busana. “Banyak kisah-kisah lainnya. Efek membaca ini benar-benar di luar dugaan dan dahsyat. Ini benar-benar memuaskan melihat orang-orang senang membaca.”

Dia masih berkeyakinan, selama koran masih laris dibeli, toko buku banyak pengunjung dan pembelinya, serta kitab suci agama apapun masih dibaca umatnya, hal itu menandakan tingkat baca masyarakat termasuk tinggi. Dia juga melihat, setiap ada acara dengan door prize buku, pasti setiap hadirin berebut mendapatkannya.

“Mengapa minat baca masih dikatakan rendah? Karena bukunya gak ada yang menarik untuk dibaca masyarakat. Karena setiap buku yang dibagikan pemerintah itu tidak tepat sasaran. Kalau bantu buku ke PAUD, misalnya, jangan bawa buku bacaan berat, tapi buku dongeng. Kalau tidak begitu, buku ya tidak terbaca,” ujar Eko.

Berpatokan dari pengalaman itu, Eko menganggap sebenarnya masyarakat Indonesia itu memiliki semangat membaca yang tinggi. Dia tidak setuju dengan anggapan tingkat baca masyarakat yang rendah. Menurut dia, yang terjadi selama ini pemerintah kurang bisa menangkap bahan bacaan yang disukai dan dibutuhkan masyarakat.

Eko mengungkap, setiap ada bacaan bagus pasti anggota Perpustakaan Anak Bangsa antre untuk meminjamnya. Dia mencatat, Laskar Pelangi yang terbit tahun 2005, menjadi buku paling fenomenal karena memiliki daftar antrean mencapai 600 orang. Menurut dia, ketika ia dan anggota perpustakaan yang sudah membaca menceritakan kisah dalam buku itu kepada teman-temannya, maka banyak orang yang tertarik untuk meminjamnya.

Namun, karena stoknya terbatas, kadang hanya satu unit konsekuensinya masa tunggu peminjaman bisa sampai lima tahun. “Buku Ayat-Ayat Cinta juga termasuk yang paling diminati sampai 400 orang yang antre. Buku lainnya adalah Sepatu Dahlan dan La Tahzan, yang banyak sekali anggota perpustakaan antusias ingin membacanya karena penasaran dan tertarik isinya,” kata Eko.

Dia menyoroti, berdirinya perpustakaan daerah di tingkat kota dan kabupaten yang jumlah pengunjungnya tidak terlalu banyak yang jam bukanya disesuaikan dengan jam kerja kantor. Padahal, biaya proyek pembangunan perpustakaan menghabiskan nilai miliaran.

“Banyak buku perpustakaan yang didirikan pemerintah tak terbaca, karena koleksi bukunya tak sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat. Masyarakat itu butuh buku praktis yang cocok dengan kondisi mereka. Kenyataannya, buku saya banyak dibaca dan saya sudah membuktinya,” kata Eko.

Penulis sempat berbincang sebentar dengan salah satu pengunjung bernama Kusnindar. Sebagai kuli bangunan, dia merasa nyaman setiap hari mengunjungi Perpustakaan Anak Bangsa kalau sedang tidak ada pekerjaan. “Saya senang baca-baca di sini,” katanya. Eko menimpali, Kusnindar memang termasuk salah satu pengunjung yang menghabiskan waktu sehari-hari di perpustakaan, kalau sedang tidak ada pekerjaan. “Pintar anaknya, dulu padahal belum tentu suka baca. Dia semakin pintar setelah banyak baca,” kata Eko.

Atas upayanya menggugah kesadaran masyarakat untuk mencintai buku, Eko kerap mendapatkan berbagai penghargaan tingkat daerah maupun nasional. Salah satunya berupa penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (Satu Indonesia) Awards tahun 2012. Dia mengatakan, penghargaan itu diterimanya berkat kegigihannya menyebarkan gerakan menumbukan minat baca di masyarakat.

Dia mengaku, pada awalnya tidak bermimpi untuk meraih penghargaan atau sejenisnya ketika merintis Perpustakaan Anak Bangsa. Meski begitu, ia merasa senang ada pihak-pihak yang peduli dengan dunia pendidikan, seperti Astra yang memiliki visi ingin membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

“Penilaian Astra waktu itu menyebar tim ke seluruh Indonesia. Ada 1.800 orang yang dinilai dan disaring sampai 500 orang, kemudian dipilih finalis setiap bidang. Saya akhirnya menang setelah diverifikasi oleh tim yang memantau kegiatan di sini. Saya dinilai karena punya konsistensi menjaga Perpustakaan Anak Bangsa,” katanya.

Head of Public Relations PT Astra International Tbk, Yulian Warman mengatakan, Eko Cahyono pernah mendapatkan penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (Satu Indonesia) Awards tahun 2012 atas kontribusinya di bidang pendidikan yang dapat dirasakan masyarakat. Menurut dia, setiap penerima penghargaan tersebut harus melalui proses seleksi dan penilaian ketat dari juri. Dia menuturkan, konsistensi Eko dalam mengembangkan Perpustakaan Anak Bangsa benar-benar dirasakan masyarakat sekitarnya.

Karena bagis Astra, pendidikan merupakan hal yang penting dalam mensejahterakan bangsa. “Dampak kehadiran Perpustakaan Anak Bangsa yang didirikan Mas Eko Cahyono ini mampu menghadirkan perubahan besar di masyarakat sekitarnya. Mas Eko ini ikhlas dalam mengajak banyak orang untuk ikut tergerak dalam memasyarakatkan budaya membaca,” katanya.

Menurut Yulian, perhatian perusahaannya terhadap Perpustakaan Anak Bangsa tidak berhenti hanya dalam pemberian apresiasi tahun 2012. Dia mengatakan, PT Astra memberi bantuan lagi pada tahun lalu, berupa peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung semakin berkembangnya perpustakaan yang dikelola Eko. Bantuan itu meliputi lima rak buku dan tiga gulungan sampul buku untuk melengkapi Perpustakaan Anak Bangsa serta peralatan tulis-menulis untuk 60 anak yatim piatu dari tiga sekolah dasar di Desa Sukopuro.

“Karena kami pantau, Perpustakaan Anak Bangsa ini terus mengabdikan diri untuk masyarakat luas sehingga layak untuk diberi bantuan. Harapan kami, perpustakaan ini bisa lebih memberi manfaat lebih banyak bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya untuk semakin giat membaca,” ucap Yulian.

Advertisements