Selasa, 13 Desember 2016 Jamaah Indonesia ketika berbelanja di toko Ali Murah kompleks Pasar Balad, Jeddah. Karena banyaknya pembeli asal Indonesia, transaksi di Pasar Balad bisa menggunakan uang rupiah

Oleh Erik Purnama Putra

Indah Wulandari merogoh-rogoh koceknya. Pada awal Desember ini, ia tengah berada di toko Karim Murah di Pasar Balad, Jeddah, usai menikmati rangkaian ibadah umrah di Madinah dan Makkah. Dia seolah tidak percaya, uang yang digenggamnya tinggal 90 riyal Arab Saudi. Padahal, botol parfum pesanan saudaranya yang sudah dipilihnya berharga 100 riyal.

Dia sempat bingung dengan kekurangan itu. Sempet terbersit ingin menukarkan uang rupiah ke riyal, namun terasa nanggung lantaran jumlah yang dibutuhkan sedikit. “Saya kira harganya murah. Ternyata uang sisa riyal kurang. Beruntung, kasirnya mau menerima uang Rp 100 ribu dan dikasih kembalian pakai riyal,” kata Indah mengenang salah satu kisah uniknya usai menjalani ibadah umrah,, Senin (12/12).

Staf Tenaga Humas Pemerintah di Kementerian Kesehatan ini mengaku, takjub dengan pengalamannya berbelanja di Pasar Balad. Bagi Indah, membeli barang oleh-oleh di Pasar Balad seolah sedang berbelanja di rumahnya di Kota Depok. Yang membuatnya terkejut, ketika ia mengaku sudah kehabisan uang riyal, penjaga toko yang mengerti beberapa kalimat bahasa Indonesia itu malah memberi layanan mengejutkan.

Menurut Indah, ketika mampir di toko Kamal Murah, ia malah ditawari bisa utang kalau uangnya habis. “Mereka terima rupiah. Di kasirnya, malah ada (toko) yang ditulisi bisa berbelanja pakai rupiah. Saya dan teman-teman ditawari bayar ketika sampai di Indonesia,” kata Indah sambil tertawa.

Indah juga menyempatkan diri mampir ke toko Mang Oedin. Bukan berbelanja barang, tapi ia membeli bakso lantaran lidahnya sudah kangen dengan masakan Tanah Air. Karena persediaan uang riyal sudah habis, ia menyerahkan lembaran Rp 50 ribu untuk membayar menu pesanannya. “Harganya 13 riyal, langsung dikonversikan jadi Rp 50 ribuan di depan kasir. Saya bayar pakai rupiah saja,” katanya.

Dosen di universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, Agus Riyadi juga memiliki pengalaman tak terlupakan ketika berada di Pasar Balad, Jeddah, sekitar dua tahun lalu. Sebelum keesokan harinya balik ke Indonesia, Agus bersama rekannya usai shalat Maghrib berjalan kaki dari hotel menuju Pasar Balad. Agus yang baru pertama kali ke luar negeri tampak heran ketika memasuki kompleks Pasar Balad yang hampir semua tokonya menggunakan nama bahasa Indonesia.

Dia semakin takjub ketika mendapati pelayan toko yang sepertinya berasal dari negara Asia Selatan juga mempersilakannya masuk toko sekaligus mengucapkan selamat malam. “Pas disapa, saya kaget. Dia juga bisa bahasa Jawa dan Sunda. Akhirnya saya kerudung buat istri dan kaus untuk anak saya. Waktu itu bayarnya pakai riyal, karena stoknya masih ada, meski boleh pakai rupiah,” tuturnya.

Agus menyatakan, secara psikologis berbelanja di deretan toko tersebut membuatnya nyaman. Dia pun senang sekali dengan model pelayanan seperti itu hingga tidak ‘sadar’ barang yang dibelinya lebih banyak dari yang direncanakan. Ketika beberapa kali pindah toko dan tertarik membeli oleh-oleh makanan, Agus akhirnya tertarik membeli ketika diberi tahu boleh menggunakan rupiah. Dia sempat berseloroh, nilai rupiah bisa diakui di negara lain yang lokasinya sangat jauh dari Indonesia.

“Justru pada waktu itu yang minta untuk bayar pakai rupiah adalah penjualnya. Saya heran, kok bisa ya uang rupiah laku di Arab. Artinya ada kedekatan yang luar biasa antara orang Arab dan orang Indonesia. Ini terkesan bahwa orang Indonesia suka belanja, sampai tanpa menggunakan uang riyal saja orang Arab (pemilik toko) mau dengan uang rupiah,” ucapnya.

Hanya saja, ia mencatat, uang di Arab Saudi jumlah nominalnya kecil dan berbeda dengan Indonesia yang nilainya ribuan. Kondisi itu yang dianggapnya menimbulkan penilaian bahwa uang rupiah ‘tidak berharga’ di negeri orang. Agus berharap, pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia (BI) untuk bisa mencarikan solusi supaya rupiah terkesan bisa bernilai sama dengan mata uang di luar negeri

Peredaran uang rupiah juga berlaku di tempat tertentu di Bangkok, Thailand. Pekerja swasta di Surabaya, Fiqih Arfani sudah membuktikannya ketika mengunjungi Pasar Wat Arun, Bangkok, Thailand pada tahun lalu. Sebelum berangkat bersama rombongan, ia benar-benar tidak tahu kalau salah satu tempat tujuan wisatanya tersebut sangat familiar dengan orang Indonesia. Selain pedagangnya bisa berbahasa Indonesia, kata dia, mereka juga menerima uang rupiah kalau stok baht yang dibawa sudah habis.

Fiqih yang memang mencari kaus, beragam souvenir dan aksesoris lainnya untuk oleh-oleh, akhirnya tertarik untuk berbelanja dalam stok banyak, lantaran harga jualnya juga bisa ditawar. “Saya bayar rupiah, gara-gara kehabisan duit Thailand. Tinggal di kurs sama pedagang. Ya risikonya kurs lebih mahal dari harga normal, tapi gak pa pa yang penting bisa pakai rupiah, hee,” kata Fiqih.

Dia mengatakan, tidak menyangka uang rupiah ternyata laku di luar negeri. Fiqih tidak habis pikir, bagaimana bisa rupiah yang katanya nilainya rendah, faktanya diterima pedagang di Thailand. Dia membayangkan, andai saja nilai tukar rupiah tidak seterpuruk sekarang, tentu uang rupiah pasti diterima pedagang-pedagang di negera yang ramai dikunjungi turis Indonesia. “Ini tentu sangat menguntungkan karena tawar-menawar tidak perlu bingung,” kata Faqih.

Advertisements