KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto.

KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto.

Rabu, 18 Januari 2018

Oleh Erik Purnama Putra

Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi melantik Hadi Tjahjanto sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) di Istana Negara, Rabu (18/1). Pangkatnya pun otomatis menjadi empat bintang atau Marsekal. Hadi mengalahkan dua kandidat lainnya yang lebih senior, yaitu Wakil Gubernur Lemhannas Marsekal Madya (Marsdya) Bagus Puruhito alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) 1985 dan Wakil KSAU Marsdya Hadiyan Sumintaatmadja alumnus AAU 1983.

Keputusan Jokowi itu sebenarnya bukan sebuah kabar mengejutkan. Selama ini, informasi yang berkembang menyebutkan Hadi memang dipersiapkan untuk menggantikan Marsekal Agus Supriyatna yang memasuki masa pensiun pada 28 Januari 2017. Sudah jamak pula diketahui, hubungan Jokowi dan Hadi sudah terjalin sejak lama. Saat Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo, Hadi yang berpangkat Kolonel menjabat Komandan Lanud (Danlanud) Adi Soemarno.

Pencapaian alumnus AAU ini terbilang cepat, bahkan bisa dikatakan meroket. Pasalnya, Hadi mengalani kenaikan pangkat tiga kali hanya dalam tempo 18 bulan. Pada Juli 2015, ia yang masih menjabat Danlanud Abdulrachman Saleh di Malang masih menyandang bintang satu di pundak. Kemudian, berdasarkan, Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/593/VII/2015 tanggal 25 Juli 2015, tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI, Hadi dipromosikan menjadi Sekretaris Militer Presiden dengan pangkat Marsekal Muda (Marsda).

Berselang 15 bulan kemudian, Hadi mendapat promosi lagi mengacu Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/830/X/2016 tanggal 10 Oktober 2016. Kantornya pindah dari Jalan Merdeka Utara ke Jalan Merdeka Barat. Hanya pindah kantor berjarak sekitar 150 dari Istana Negara, Hadi menjadi orang nomor tiga di Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dengan jabatan sebagai Inspektorat Jenderal (Irjen). Dia menggantikan Marsdya Ismono Wijayanto yang memasuki masa pensiun. Dan, berselang tiga bulan kemudian, ia dipromosikan lagi menjadi orang nomor satu di TNI AU.

Sebenarnya, kabar soal promosi Hadi menjabat KSAU ini sudah santer terdengar sejak lama. Bahkan, ia diproyeksikan sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo. Bahkan, pada akhir tahun lalu, sempat beredar pesan berantai (broadcast) tentang diangkatnya Hadi menjadi Panglima TNI. Jokowi yang mengetahui kabar itu langsung memanggil Gatot Nurmantyo ke Istana Negara untuk mengklarifikasi info hoax tersebut ke wartawan.

Bagi penulis, pengangkatan Hadi sebagai KSAU bukan sebuah kejutan. Penulis mendapatkan informasi akurat mengenai hal itu sejak media Desember 2016. Kala itu, penulis menghadiri sebuah acara di Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Beberapa rekan wartawan sempat mengobrol dengan Hadi yang didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenhan Laksamana Madya (Laksdya) Widodo.

Ada salah satu teman yang mengingatkan Hadi tentang janjinya yang pernah mengajak wartawan untuk berkunjung ke Malang. Mungkin janji itu disampaikan Hadi ketika serah terima jabatan (sertijab) dari Kepala Dinas Penerangan AU (Kadispenau) ke Danlanud Abdulrachman Saleh medio 2015 lalu. Widodo tiba-tiba memberi kode bahwa janji itu bakal segera direalisasikan. “Tunggu saja, tidak lama lagi beliau pasti (mengajak wartawan),” kata Widodo kala itu.

Widodo juga secara tersirat, Hadi tidak lama di Kemenhan dan mendapat promosi. Penulis menangkap kesan, Hadi menjadi KSAU. Hal itu lantaran Kemenhan secara institusi lebih tinggi dari Mabes TNI, sehingga promosi Hadi pasti arahnya bakal memegang komando matra TNI yang memiliki doktrin Swa Bhuwana Paksa tersebut. Ternyata prediksi itu tidak meleset.

Bagi penulis, keputusan Jokowi mempercepat karier Hadi itu jelas mengundang sedikit tanya. Mengapa Jokow berperan? Bagaimana pun juga, Jokowi yang memiliki wewenang menunjuk Hadi sebagai KSAU. Berdasarkan riwayat jabatan, Hadi tidak pernah menjabat sebagai Panglima Komando Operasi (Pangkoops) AU I dan II untuk jabatan bintang dua maupun Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Pangkosekhanudnas) untuk jabatan bintang satu.

Hadi yang pernah menjabat Direktur Operasi dan Latihan Basarnas (2011-2013) hanya sekali menduduki jabatan yang membawahi operasional pasukan, yaitu menjadi Danlanud Abdulrachman Saleh. Di luar itu, sejak bintang satu hingga bintang tiga, ia terus menduduki jabatan staf sebagai Kadispenau (2013-2015), Sekretaris Militer Presiden (2015-2016), dan Irjen Kemenhan (2016-2017).

Meski begitu, keputusan sudah dibuat Jokowi. Semua pihak harus menghormatinya. Kita tunggu saja gebrakan Hadi dalam memimpin TNI AU. Hadi yang kini berkantor di Cilangkap, Jakarta Timur harus memfokuskan pada peremajaan alutsista maupun peningkatan kesejahteraan prajurit. Menurut penulis, dua isu menjadi sangat krusial untuk diberi perhatian lebih.

Selamat bertugas Pak Hadi. Abaikan saja kalau ada isu pengangkatan Anda menjadi KSAU lantaran bakal menjadi besan Jokowi. Apapun itu, keputusan politik telah diambil Jokowi entah dengan pertimbangan apa. Tetap fokus bekerja dengan baik saja di Mabes TNI AU!

Advertisements