Pembukaan Festival Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga.

Pembukaan Festival Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga.

Senin, 30 Januari 2017

Oleh Erik Purnama Putra

Sekitar 10 kader bela negara mengangkat tandu pelan-pelan. Diiringi lagu Gugur Bunga, mereka dengan hati-hati meletakkan tandu ke tanah. Ratusan peserta upacara yang terdiri prajurit TNI, polisi, kader bela negara, dan para siswa tiba-tiba meletakkan lulut di tanah. Mereka menundukkan wajah sebagai tanda penghormatan terhadap kedatangan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Jenderal Besar Soedirman tepat berusia 101 tahun pada 24 Januari 2017. Untuk memperingati hari lahir pahlawan nasional tersebut, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga menggelar Festival Panglima Besar Jenderal Soedirman di Museum Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Selasa (24/1). Selain membuka festival, kehadiran Menhan Ryamizard Ryacudu sekaligus menjadi inspektur upacara dalam pengukuhan 540 kader bela negara.

Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan, pihaknya mendukung dilaksanakannya perayaan hari lahir Jenderal Soedirman. Menurut dia, jasa kepahlawanan Jenderal Soedirman harus disebarkan dan diteladani generasi muda. Dia mengatakan, sangat tepat peringatan hari lahir pahlawan nasional tersebut diselenggarakan di tempat kelahirannya. “Saya mendukung dilaksanakannya setiap tahun karena termasuk wujud bela negara. Tempat ini adalah lokasi pahlawan nasional, pahlawan kita semua, pahlawan perjuangan,” kata Ryamizard di tengah guyuran hujan lebat.

Menurut mantan KSAD tersebut, jejak perjuangan Jenderal Soedirman tidak perlu diragukan lagi. Sepanjang hayatnya, kata dia, semuanya didedikasikan demi terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ryamizard juga mengingat, meski kekuatan fisiknya terbatas karena harus ditandu, Panglima Soedirman tetap memimpin pasukannya melawan penjajah Belanda dengan semangat perang gerilya. Dia pun menginginkan, masyarakat dan kader bela negara bisa meneladani perjuangan tanpa pamrih tersebut.

“Tidak diragukan lagi, apa yang beliau kerjakan, semuanya untuk bangsa dan negara ini. Saya bangga sekaligus terharu, di tempat lahir Jenderal Soedirman ini, tumbuh para kader bela negara yang diharapkan bisa meneladani semangat kebangsaan Jenderal Soedirman,” ujarnya.

Dia menyatakan, figur Panglima Soedirman tak hanya dikagumi di dalam negeri, melainkan juga menjadi sumber inspirasi di luar negeri. Dia mengungkap, pahlawan nasional yang wafat pada usia 34 tahun tersebut sangat populer di Jepang. Bahkan saking kagumnya, Kemenhan Jepang sampai membuat patung Jenderal Soedirman sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya semasa perang gerilya. Ryamizard menegaskan, Kemenhan Jepang hanya membuat satu patung asing yang ternyata berasal dari Indonesia.

Ryamizard juga mendukung langkah Pemkab Pemkab Purbalingga yang mengubah nama Bandara Wirasaba menjadi Bandara Panglima Jenderal Besar Soedirman. Keputusan itu sebut sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan yang lahir di Purbalingga. Menurut dia, memang sangat tepat kalau Bandara Wirasaba diganti menjadi Jenderal Soedirman, karena mengandung nilai historis tinggi. “Bagus itu. Nama Wirasaba itu pemberian Belanda. Dulu merupakan lapangan terbang berupa rumput. Kemenhan mendukung pengubahan proses nama menjadi Bandara Jenderal Soedirman,” katanya.

Bupati Purbalingga, H Tasdi mengatakan, pihaknya merasa beruntung bisa menyelengarakan Festival Panglima Besar Jenderal Soedirman yang berlangsung Selasa (24/1) hingga Ahad (29/1). Dia mengatakan, filosofi pelaksanaan festival itu sengaja dimulai pada hari kelahiran dan diakhiri pada hari kematian Jenderal Soedirman.

Dia menyatakan, Kabupaten Purbalingga perlu untuk terus menggelorakan peringatan hari kelahiran Panglima Soedirman karena sosoknya yang sulit ditandingi dalam hal pengabdian kepada bangsa dan negara. “Semoga Festival Panglima Jenderal Besar Soedirman bisa menjadi agenda nasional. Saya juga berharap, sesekali ada peringatan hari lahir TNI di sini,” ucapnya.

Tasdi memiliki rencana untuk merevitalisasi Museum Tempat Lahir Jenderal Soedirman agar kondisinya semakin bagus. Monumen yang diresmikan pada 21 maret 1977 tersebut terakhir direhabilitasi pada 1990 dengan ditandai plakat tanda tangan presiden ke-2 RI, Soeharto. Karena sudah lama tidak mendapatkan perawatan, Tasdi mengagendakan untuk memperbarui museum seluas 5.000 meter persegi (m2) tersebut.

Advertisements