Senin, 24 April 2017 Reynand Al Khawarizmi.

Oleh Erik Purnama Putra

Dari dulu sebenarnya tangan ini sangat gatel ingin menulis tentang anak saya. Namun, akhirnya setelah berkali-kali tertunda akhirnya tulisan pertama ini terbit di blog ini. Reynand Al Khawarizmi namanya. Usianya sekarang sudah dua tahun sebulan pada 28 April 2017. Dia lahir di Malang pada 28 Maret 2015. Ketika dia lahir di dunia, saya tidak berada di sisinya. Pada malam ketika istri saya, Deviana Kuspriandani mulai menunjukkan tanda-tanda kelahiran, saya memilih tidak berada di kontrakan di Jalan Damai, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kontrakan saya berada di sebelah selatan markas Badan Intelijen Negara (BIN). Kala itu, saya memilih menghabiskan malam di kantor saja di Jalan Warung Buncit Raya Nomor 37, Jakarta Selatan. Saya benar-benar gelisah. Mulut ini terus merapal doa. Kadang berzikir. Sampai-sampai saya yang jarang, kali itu menunaikan shalat malam untuk menenangkan hati. Sebuah momen yang sepertinya akan terus membekas dalam memori saya. Sebuah momen menunggu kelahiran buah hari dari jarak ratusan kilometer.

Singkat cerita, saya dan istri sepakat memberi nama. Ada beberapa nama yang saya suka. Setelah berunding, didapatlah Reynand Al Khawarizmi. Reynand adalah nama pemberian istri saya. Reynand memiliki banyak arti, di antaranya bijaksana, besar, berani, kuat, dan baik hati. Adapun Al Khawarizmi adalah tokoh besar di bidang matematika, selaku penemu aljabar dan angka nol (0). Dengan adanya angka nol, sistem komputer dan internet hingga mesin canggih bisa kita rasakan manfaatnya saat ini.

Ketika usianya satu setengah bulan, istri saya mengajak Reynand hijrah ke Jakarta. Reynand harus menempuh perjalanan selama hampir 15 jam naik kereta api dari Stasiun Kota Malang hingga Stasiun Peser Senen. Tentu sebuah perjalanan melelahkan bagi istri saya dan juga Reynand. Sejak saat itu hingga sekarang, Reynand tinggal dan tumbuh di Jakarta.

Sekarang, saya sudah memiliki rumah sendiri di kawasan Poltangan, Pejaten Timur, Pasar Minggu. Sebuah rumah kecil yang terletak di sebuah gang, yang hanya dapat dilewati sepeda motor. Namun, lokasi rumah ini sangat menolong bagi saya maupun istri saya yang sama-sama bekerja.

Pada 27 Maret 2017 atau sehari menjelang usianya dua tahun, istri saya benar-benar menyapih atau menghentikan aktivitas menyusui anak saya. Pada malam hari menjelang tidur, Reynand seperti terlihat orang bingung. Dia yang terbiasa tidur sambil mengemut nenen bundanya kala itu harus tidur dengan pengalaman baru. Dia terus meminta minum air putih sebagai bentuk pengalihan tidak minum ASI.

Akhirnya setelah kecapekan, anak saya bisa tidur menjelang pergantian hari. Saat itu istri saya sudah tertidur terlebih dulu karena kecapekan dan besok paginya harus berangkat kerja. Saya yang melihat anak saya akhirnya tertidur karena sudah tidak dapat menahan ngantuk, akhirnya meneteskan air mata.

Antara tidak tega dan ingin mengajarinya melewati tahapan tak lagi nenen, saya merasakan sebuah pemandangan tidak biasa. Dari peristiwa itu, saya merasa bangga akhirnya anak saya benar-benar mendapatkan asupan ASI dua tahun penuh. Saya juga bangga dengan istri saya yang bisa tetap menjaga agar ASI-nya keluar di tengah aktivitas jam kerja yang melebihi 10 jam.

Singkat cerita, karena saya dan istri berasal dari Malang, tentu dalam momen tertentu selalu menyempatkan pulang kampung. Tentu saja Reynand diajak serta. Hal itu lantaran ketika usianya menginjak satu tahun, Reynand dirasa sudah aman untuk menempuh perjalanan udara. Hingga kini, dia sudah tiga kali pulang pergi (PP) naik pesawat Jakarta-Malang.

Bagi saya, perjalanan Reynand naik pesawat merupakan sebuah pencapaian membanggakan. Hal itu lantaran saya sendiri baru merasakan naik pesawat ketika berusia 23 tahun. Bukan mau membandingkan, namun orang tua selalu berharap buah hatinya bisa melebihi pencapaiannya.

Memiliki anak merupakan sebuah pengalaman membahagiakan bagi saya. Memang harus repot dan dibuat capek dengan tingkah lakunya. Namun, apa yang saya dapat benar-benar setimpal. Kebahagiaan, ketenangan, dan keceriaan selalu menghiasi hati ini setiap kali melihat wajah anak kecil yang tidak kenal raut sedih.

Punya anak itu ternyata sangat menyenangkan sekali. Semoga tulisan ini dapat menjadi pemicu lahirnya tulisan-tulisan lain tentang perjalanan tumbuh berkembangnya anak saya. Tulisan singkat ini memang saya tujukan untuk mengurai kegelisahan di dalam hati yang selama ini ingin saya tuangkan ke dalam tulisan.

Advertisements