Buku Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah.

Buku Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah.

Ahad, 16 Juli 2017

Oleh Erik Purnama Putra

Jika engkau bahagia dalam waktu satu jam, maka tidurlah di siang hari
Jika ingin bahagia dalam waktu satu hari, pergilah memancing

Jika ingin bahagia dalam waktu satu tahun, percepatlah memperoleh warisan
Namun jika ingin bahagia seumur hidup, jadikanlah menolong orang lain sebagai prinsip hidupmu.

Pepatah Cina yang tak diketahui pembuatnya itu kerap dikutip sebagai pembuka diskusi mengenai kebahagiaan. Pada era modern sekarang ini, kebahagiaan seolah menjadi barang mahal yang dicari banyak orang. Karena terbukti, level kebahagiaan itu berkaitan erat dengan menolong orang lain.

Berdasarkan eksperimen tiga ilmuwan, yaitu Sonja Libyumorsky, Tkatch, dan Yelverton pada 2004 tentang the power of giving menunjukkan hasil, tingkat rasa bahagia karena memberi itu ditentukan oleh bobot kasih sayang yang mendasari tindakan pemberinya. Pemberian yang didasari sikap kasih dan berorientasi prososial selalu jauh lebih bermaksa bagi sang pemberi.

Salah satu keinginan hampir semua orang yang hidup di dunia adalah menjadi kaya dan terkenal. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang kaya itu bahagia dan orang miskin itu menderita. Mengapa bisa begitu? Dari hasil riset yang dilakukan bertahun-tahun, ternyata uang bukanlah faktor satu-satunya pemicu kebahagiaan. Memang ketika orang mendapatkan rezeki melimpah atau uang dalam jumlah banyak, tidak dapat dipungkiri hatinya akan senang. Namun tingkat kesenangan itu akan kembali ke titik semula dalam waktu tertentu.

Buku Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah berisi kumpulan hasil riset dalam kurun waktu 30 tahun, di bidang psikologi, neuroscience, ilmu politik, ekonomi, dan humaniora lainnya. Aneka riset itu ingin menjawab satu pertanyaan sentral: apa yang harus dilakukan manusia untuk hidup bahagia?

Denny JA yang dikenal sebagai pegiat riset dan konsultan politik, selaku penulis merumuskan ilmu bahagia dengan formula 3P+25, terdiri personal relationship, positivity, passion, small winning, dan spiritual life. Rumus yang mudah dipraktikkan, tetapi memiliki jejak riset dan temuan ilmu pengetahuan yang panjang.

Buku ini dibagi menjadi lima bagian yang secara keseluruhan mengajak pembaca untuk menjadi pribadi yang mencapai kebahagiaan hakiki. Pada bagian I, terdiri tujuh artikel bertema ‘Menata Hubungan Pribadi’. Pada bagian II, diangkat tema ‘Membangun Sikap Hidup Positif’ dan bagian III tentang ‘Terlibat Sepenuh Hati’. Pada bagian IV berisi ‘Serial Kemenangan Kecil’, dan bagian terakhir tentang ‘Spiritual Life, Hidup yang Bermakna’. Ada salah satu artikel yang menarik perhatian pembaca, yaitu tentang kisah Andrew Carnegi (1835-1919). Dia merupakan salah satu orang terkayat pada zamannya.

Kalau diilustrasikan, kekayaan Carnegi bisa seperti yang dimiliki Bill Gates dan Warren Buffet pada era sekarang. Namun, apa yang membuat namanya harum hingga kini? Tidak lain tak bukan terkait pandangan radikalnya tentang kekayaan. Dalam tulisannya yang dimuat di North American Review berjudul The Gospel of Wealth, ia meletakkan perspektif baru terkait derma sosial. Sebuah bentuk filantrofi yang kini dimatangkan oleh generasi Bill Gates.

Ada dua penekanan dalam tulisan Carnegi, yaitu kekayaan sebanyak-banyaknya harus digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, yang diberikan jangan sampai membuat seseorang malah bergantung seumur hidup. Dia menganjurkan konsep, jangan berikan hanya ikan, tetapi juga berikan pancingnya. “Tidak lengkap menjadi orang kaya jika Anda tidak mendermakan mayoritas kekayaan sebelum mati,” begitu salah satu kutipan terkenalnya. Tidak heran, ia dianggap sebagai bapak charity modern dan penderma sosial radikal, yang spiritnya diteruskan Bill Gates dan Waren Buffet.

Buku ini juga memuat daftar negara bahagia dari yang tertinggi hingga terendah. Ternyata, negara dengan pendapatan ekonomi tertinggi tidak otomatis membuat rakyatnya bahagia. Hal itu tertungkap dari daftar negara bahagia dunia (world happiness index) yang dirilis Sustainable Development Solutions Network (SDSN) 2016, sebuah lembaga dalam naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Dari daftar itu, terlihat 10 negara yang paling mampu membuat warganya bahagia merupakan didominasi negara Skandinavia. Pada 2012 saat world happiness index dikenalkan, tiga negara paling bahagia adalah Denmark, Norwegia, dan Swiss. Pada 2013-2015, Denmark, Swiss, dan Islandia menduduki urutan tiga negara paling bahagia. Pada 2016, tiga negara paling bahagia posisinya tetap, yaitu Denmark, Norwegia, dan Islandia. Di sisi lain, hasil riset SDSN menunjukkan, Indonesia hanya berada di rangking ke-79 dunia!

Hal yang unik dari penelitian itu, Denmark selalu bertahan di urutan teratas daftar negara yang warganya paling bahagia. Padahal, negara yang beribu kota di Kopenhagen ini tidak masuk 10 besar perekonomian terbesar, bukan pusat mode dan turisme dunia, dan tak menjadi pemberitaan dunia. Namun, Denmark bisa menyandang sebagai negara yang berhasil membuat masyarakatnya sangat bahagia. Apa rahasianya?

Negara berpenduduk hanya enam juta jiwa ini memiliki delapan unsur utama yang menjadi keunggulan dibandingkan negara lainnya. Perinciannya, kepercayaan antarmasyarakat tinggi, rasa aman, kemapanan ekonomi, iklim konduksif, sistem tenaga kerja, kehidupan demokrasi, memilih hidup seimbang, tradisi atau karitas masyarakat yang gemar berbagi.

Menurut riset Techinsder 2016, sekitar 67 persen penduduk Denmark senang membantu orang yang tak dikenalnya dan 20 persen penduduk memberi donasi kepada lembaga amal. Ekonom Denmark Christian Bjornskov menilai, uang bagi di negaranya memang penting, tetapi kualitas kehidupan sosial jauh lebih dipentingkan warga. Elemen fundamental itulah yang membuat Denmark menghasilkan warga yang level kebahagiaannya tertinggi di dunia (halaman 79).

Buku yang disunting Fahd Pahdepie dan Windy Ariestanty ini menyajikan aneka temuan dan riset tersebut dalam bahasa yang mudah, dilengkapi cerita-cerita yang menggugah. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan peta menuju hidup bahagia secara mudah dan ilmiah. Sebagai penutup, penulis menyarankan pemerintah untuk mulai menjadikan aspek kebahagiaan sebagai tolok ukur pengembangan sumber daya manusia masyarakat sebagai sebuah kesuksesan dalam pembangunan.

Judul : Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah
Penulis : Denny JA
Penerbit : KataDepan
Terbit : Cetakan pertama 2017
Tebal : 366 halaman

 

Advertisements