Senin, 24 Juli 2017

Oleh Erik Purnama Putra

Dewasa ini, peran ayah dalam pembentukan karakter anak sangat besar. Ayah tidak bisa lagi hanya menugaskan ibu untuk mengurusi anak-anaknya. Meski sudah ada pembagian tugas, misalnya ayah bekerja mencari uang dan ibu mengurus rumah tangga, namun tetap diperlukan peran ayah dalam mengasuh atau merawat dan mendidik anak-anak.

Memang masih jamak ditemukan, ada pembagian tidak tertulis dalam sebuah keluarga kalau tugas ayah itu hanya mencari nafkah dan ibu mengurus anak-anak di rumah. Hal itu memang kelihatan ideal, tetapi pada praktiknya tak bisa diterapkan secara kaku. Sebaiknya ayah tetap wajib ikut menjaga interaksi dengan anaknya, seperti mengajaknya berbicara, bercanda, dan bermain.

Anak yang masih kecil jelas tidak bisa dilepaskan dari sosok ayahnya. Dari ayahnya, anak bisa belajar tentang keberanian, disiplin, dan kepemimpinan. Sehingga peran ayah menjadi sentral untuk melengkapi kasih sayang ibu yang kebagian tugas mengurus anak di rumah.

Sekarang bukan eranya lagi ayah berstatus tunggal, yaitu sebagai kepala keluarga atau hanya menjadi tulang punggung keluarga. Hal itu lantaran tumbuh dan kembangnya anak sangat diperlukan kehadiran aktif seorang ayah. Selain dibutuhkan demi kebaikan anak, peran ayah juga sekaligus membantu ibu rumah tangga, yang bebannya dalam merawat anak tidak bisa dianggap remeh.

Masalah menjadi pelik ketika, baik ayah dan ibu sama-sama bekerja. Untuk menyiasati masalah itu, diperlukan adanya pola interaksi intens untuk memaksimalkan kualitas waktu bersama anak. Ayah bisa memanfaatkan setiap waktunya untuk berkomunikasi dan bermain sambil merawat anaknya. Ayah bahkan bisa menggantikan pekerjaan ‘ibu rumah tangga’ ketika sang istri bekerja di luar rumah. Karena itu, peran ayah sangat besar dalam merawat tumbuh kembangnya anak, dan tugas itu tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada ibu semata.

Pasalnya karakter anak akan terbentuk dari pola relasi dan komunikasi dengan ayahnya. Psikolog dari Universitas Concordia di Amerika Serikat, Erin Pougnet dalam risetnya pada 2011 menyimpulkan adanya relasi kuat yang terbentuk di antara keduanya kala ayah terlibat dalam mengurus anak di rumah. “Ayah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan perilaku dan kecerdasan anak-anak mereka,” begitu hasil penelitian Pougnet.

Pola meniru
Mengacu penelitian tersebut, sangat jelas kepribadian dan pembentukan karakter anak tidak bisa dilepaskan dari sentuhan dan didikan ayah sejak kecil. Keberadaan ayah semestinya ikut memacu anak untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Mereka berpotensi menjadi pribai yang tangguh, berkarakter, dan memiliki sikap jelas dalam berpendirian.

Psikolog Ditta M. Oliker (2011) juga mengatakan, anak yang mengalami relasi yang intensif dengan ayahnya semenjak lahir akan tumbuh menjadi anak yang memiliki emosi yang aman (//emotionally secure//), percaya diri dalam mengeksplorasi dunia sekitar, dan ketika tumbuh dewasa mereka akan dapat mampu membangun relasi sosial yang baik.

Salah satu karakter yang melekat pada anak adalah mengamati orang di sekitarnya dan melakukan tindakan imitasi. Anak biasanya selalu meniru apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Karena itu, setiap ayah hendaknya harus bisa menjadi contoh baik bagi anak-anaknya. Caranya dengan wajib ekstra hati-hati dalam beraktivitas sehari-hari di dekat anak.

Hal itu lantaran ada pula ayah yang secara tidak sadar memberi contoh negatif di depan anaknya. Salah satunya dengan merokok di rumah. Padahal kita tahu, menjadi perokok pasif lebih banyak efek negatifnya. Sayangnya, asap rokok malah dihirup penghuni rumah, baik sang anak maupun istri. Di sinilah yang perlu dikritisi dari figur seorang ayah. Bukannya berkontribusi positif terhadap masa perkembangan anaknya, malah menularkan kebiasaan buruk yang terekam dalam kognisi mereka.

Saat ini, ada hal miris yang banyak terjadi di kalangan anak-anak hingga remaja. Tingkat perokok pemula meningkat tajam dari tahun ke tahun. Tidak sedikit anak yang masih berstatus siswa sekolah dasar (SD) sudah merokok. Mereka memang diam-diam atau sembunyi-sembunyi saat melakukan aktivitas negatif itu. Namun, lama-kelamaan jumlah anak-anak yang merokok semakin besar. Kondisi itu tidak bisa dilepaskan dari hasrat ikut-ikutan teman hingga anak yang tak merokok akhirnya tergerak menjadi perokok aktif.

Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada 2014, ada 20,3 persen remaja usia 13-15 tahun di Indonesia yang merokok. Selama 10 tahun terakhir, perokok pemula usia 10-14 tahun naik dua kali lipat dari 9,5 persen pada 2001 menjadi 18 persen pada 2013. Sebanyak 62,7 persen anak-anak yang merokok terpengaruh setelah melihat iklan rokok di TV, video, dan film. Sebanyak 60,7 persen anak-anak melihat iklan promosi rokok di toko-toko, dan ada 7,9 persen anak-anak merokok karena pernah ditawari oleh penjual rokok.

Ada satu hal yang selama ini luput dari sorotan pembuat kebijakan, yaitu terkait fungsi pencegahan dari keluarga. Pemerintah selama ini kerap menyalahkan adanya iklan rokok di lingkungan sekolah yang menjadi penyebab makin maraknya siswa merokok. Memang hal itu benar adanya, iklan turut menjadi pemicu meluasnya aktivitas merokok di kalangan siswa.

Namun, ada satu langkah antisipasi yang seharusnya efektif dalam mengurangi jumlah perokok pemula. Cara itu bisa dimulai dari dalam rumah. Di sini perlunya peran ayah untuk mencegah anak-anaknya untuk tidak menjadi perokok aktif. Pasalnya sangat mudah didapati, anak sekolah yang merokok juga dipicu ayahnya kerap merokok ketika berada di rumah.

Aktivitas yang dilakukan sang ayah terus-menerus itu sepertinya mendorong anak-anak untuk menirunya di luar rumah, khususnya ketika berkumpul bersama teman sekolahnya. Mereka menjadi semakin berani merokok. Pada tahap awal, mereka pasti merokok dengan cara sembunyi-sembunyi dengan alasan mencoba-coba. Namun, ketika merokok sudah menjadi kebiasaan maka hal itu bisa meluas dan dilakukan siswa SD. Memang diperlukan penelitian lebih lanjut berapa persen tingkat pemicunya, namun penulis meyakini hal itu sebagai salah satu faktor utama.

Dalam kondisi seperti itu, bisa saja sang ayah marah melihat anaknya yang masih kecil sudah berani merokok. Namun, ayah itu lupa bahwa ia seorang perokok yang secara tidak langsung memberi panutan negatif kepada anaknya. Sehingga, segala nasihat dan kata bijak yang keluar dari mulutnya tidak akan sanggup menghentikan anaknya dari aktivitas merokok.

Sehingga, seharusnya seorang ayah yang setiap harinya merokok tidak perlu marah ketika mendapati anaknya ikut-ikutan merokok. Hal itu lantaran perbuatan itu lebih masuk dalam memori anak. Sehingga contoh yang dilakukan ayah lebih berarti untuk dipraktikkan anak-anak daripada beragam kata-kata untuk sang anak.

Penulis barangkali termasuk orang yang beruntung karena lingkungan tempat tinggal tidak ada yang merokok. Alhasil ketika dewasa ini merasa tidak pernah tertarik dengan rokok. Meski di lingkungan pertemanan, baik di kampung maupun sekolah banyak teman yang merokok, penulis tidak tertarik mengikutinya. Sikap itu terbentuk lantaran tidak ada satu pun penghuni rumah yang merokok. Sehingga prinsip tidak merokok menjadi sebuah keyakinan karena diajarkan kepada anak dan sikap itu tetap berlaku sampai kini. Hasil didikan ayah sangat berkontribusi dalam mencegah keburukan yang dilakukan oleh anak-anak.

Penguatan
Dalam kasus meningkatnya tingkat prevalensi perokok anak-anak, cara paling efektif untuk menurunkan jumlah perokok tentu dengan dimulai dari dalam keluarga. Peran ayah dan ibu tidak bisa dipindang remeh dalam meminimalisasi upaya mengurangi perokok pemula. Ketika anak-anak lain tergerak merokok karena melihat iklan, namun ketika di rumah ada panutan yang tidak merokok maka ia akan bergulat untuk bisa bersikap.

Rokok sepertinya menjadi persoalan nasional yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan masyarakat Indonesia. Untuk menekan, setidaknya melokalisasi agar jumlah perokok tidak semakin banyak maka diperlukan kampanye penguatan peran ayah untuk mecegah anak-anak menjadi perokok. Langkah itu terbilang lebih mudah diterapkan dan tak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mengurangi dampak negatif rokok.

Tidak ada salahnya gerakan tersebut dicoba dulu, meskipun di sisi lain pasti ada saja pihak yang mempertanyakan efektivitasnya. Karena apa yang diperbuat ayah dan ibu di rumah bisa menjadi role model yang bisa melindungi anak dari pengaruh buruk lingkungan sekitarnya. Menurut penulis, jika langkah itu nantinya terbilang berhasil maka inilah bentuk konkret revolusi mental sebagai pembentukan karakter anak bangsa yang sedang digaungkan pemerintah selama ini.

Advertisements