Selasa, 8 Agustus 2017 Kampung Penas Tanggul di Cipinang, Jakarta Timur.

Oleh Erik Purnama Putra

Ibu Kasinem sedang duduk-duduk bersama dua ibu lainnya di balai pertemuan warga Kampung Penas Tanggul RT 015 RW 02, Cipinang Besar Selatan pada Ahad (30/7) pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Kasinem bersama ibu-ibu lainnya akan melaksanakan senam rutin setiap Ahad pagi. Senam dilaksanakan di jalan selebar dua setengah meter yang terletak di samping Sungai Cipinang itu.

“Ini senam rutin sekarang setiap hari Ahad. Sebenarnya sudah lama, tapi kadang ibu-ibu repot tidak ikut dan ini digalakkan lagi,” ujar Kasinem saat berbincang dengan Republika.

Menurut Kasinem, sejak Penas Tanggul mendeklarasikan diri sebagai Kampung Warna Warni Bebas Asap Rokok, mulai ada perubahan sedikit demi sedikit dalam perilaku warga. Dia menuturkan, warga di kampungnya kini mulai disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan. Pun saat ini mulai dijadwalkan bagi ibu-ibu untuk mengikuti senam setiap satu pekan sekali agar tubuhnya bugar dan sehat.

“Sebenarnya sudah ada rutin senam di puskesmas, tapi kadang ibu-ibu gak jalan, repot. Sekarang warga di sini antusias (ikut senam), kompak selalu,” ujar Kasinem.

Istri Sumardi ini menuturkan, pencanangan Kampung Warna Warni Bebas Asap Rokok benar-benar dipraktikkan seluruh warga Kampung Penas Tanggul. Kasien mencontohkan suaminya yang kini setiap merokok selalu keluar rumah. Dia mengetahui, komitmen awal warga laki-laki saat ini adalah dilarang merokok di dalam rumah supaya asap rokok tidak dihirup penghuni rumah.

“Suami saya itu sejak sebelum nikah sama saya, itu sudah merokok. Awal-awal saya tegur terus, kasihan anak-anak ikut menghisap asap rokok. Sekarang mulai nyadarin untuk tidak merokok di dalam rumah,” kata Sumimen.

Dari pernikahan dengan Sumardi, Suminem memiliki empat anak. Menurut dia, sebelumnya suaminya sangat cuek dan seenaknya ketika menghisap rokok di dalam rumah. Padahal, ia menyadari asap rokok itu pasti dihirup anak-anaknya dan itu tidak baik bagi kesehatan keluarganya. Karena itu, ketika di kampungnya dijadikan kawasan sebagai bebas rokok, ia bersama ibu-ibu lainnya sangat mendukung sekali.

“Saya paham, kebiasan merokok tidak bisa dihilangin sekaligus, sedikit demi sedikit akhirnya suami saya yang perokok berat mulai mengurangi rokoknya. Dulu sehari bisa dua sampai tiga bungkus, sekarang sehari tinggal sebungkus dan setiap merokok langsung ke luar rumah,” ujar Suminem yang sudah 21 tahun menjadi penghuni Kampung Penas Tanggul.

Pencetus Kampung Warna Warni Bebas Asap Rokok, Nobby Sail Andi Supu mengatakan, warga diajak ikut aktif untuk menjaga kebersihan lingkungan agar Kampung Penas Tanggul bisa nyaman ditinggali bagi semua kalangan. Dia mendapati selama ini, ada banyak warga laki-laki yang sangat cuek ketika merokok tanpa mempedulikan situasi sekitarnya. Padahal, tidak sedikit di antara warga perokok itu yang anggota keluarganya merasakan sesak napas dan tak nyaman dengan bau asap rokok di dalam rumah.

“Akhirnya setelah berunding dengan warga, setuju jika kampung ini dibangun menjadi bebas asap rokok sambil dicat warna warni agar kelihatan rapi,” kata Nobby.

Menurut Robby, pada tahap awal setiap warga dilarang lagi merokok di dalam rumah. Hal itu lantaran pernah ada kejadian salah satu warga mengidap penyakit paru-paru lantaran suami dan putranya setiap harinya merokok di dalam rumah. Aduan warga yang kesal itu disampaikan dalam diskusi di balai pertemuan.

Nobby yang selama ini bergerak di bidang karang taruna mencetuskan ide untuk menjadikan kampungnya sebagai wilayah yang nyaman ditinggali sekaligus setiap penghuninya bebas menghirup udara segar. Karena Kampung Penas Tanggul terlelat di gang kecil dan rumah penghuninya berdempetan, ia menganggap, perlu dilakukan penataan. apalagi di berjarak kurang tiga meter dari rumah warga mengalir Sungai Cipinang yang sewaktu-waktu bisa meluas kalau sedang hujan deras.

Setelah merumuskan ide dengan Forum Warga Kota Jakarta (Fakta), Nobby bersama warga dalam sebuah pertemuan akhirnya mencapai kesepakatan untuk membuat gerakan baru di Kampung Penas Tanggul. “Karena setelah studi banding ke Yogya, ada kampung kumuh yang diubah menjadi warna warni dan ada kampung yang memiliki zona bebas asap rokok, akhirnya dipilihlah Penas Tanggul ini jadi Kampung Warna Warni Bebas Asap Rokok,” katanya.

Nobby menjelaskan, komitmen warga agar mentaati aturan bebas rokok itu memang perlu terus disosialisasikan. Meski begitu, berdasarkan pantauannya dan pengaduan ibu-ibu, saat ini hampir sudah tidak ada bapak-bapak yang merokok di dalam rumah. Ke depannya, ia ingin mewujukan Kampung Penas Tanggul bebas asap rokok dengan membuat wilayah khusus yang digunakan perokok.

Dengan begitu, para perokok tidak lagi merokok di depan rumahnya, melainkan berpindah ke wilayah khusus tersebut. Karena keterbatasan ruang, Nobby merencanakan wilayah bagi perokok itu dilokasi depan gang masuk Kampung Penas Tanggul. “Nanti kita buatkan kawasan khusus bagi perokok di ujung gang, bertahap dulu,” ujar Nobby yang lahir di Kampung Penas Tanggul pada 1994.

Nobby menuturkan, Kampung Warna Warni Bebas Asap Rokok sebenarnya memiliki tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup warga Kampung Penas Tanggul. Karena itu, selain berfungsi sebagai pencegahan penyakit, warga juga digalakkan untuk menerapkan gaya hidup sehat.

Nobby selalu berusaha mengajak warga untuk beraktivitas pada hari libur. Selain melakukan kerja bakti bagi warga laki-laki, ia mengajak ibu-ibu untuk menjaga kesehatan dengan menggelar senam. Bahkan menjelang peringaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 RI, ia mengajak ibu-ibu untuk mengadakan lomba agustusan yang diikuti anak-anak. Dia sedang berupaya keras untuk menggalang dana supaya perayaan HUT RI bisa semarak dan diikuti seluruh warga kampungnya.

“Ini setiap Ahad senam. Kita ajak ibu-ibu dan anak-anaknya biasa ikut. Untuk perayaan agustusan ini, kita akan adakan jalan santai dan lomba-lomba tingkat RT, jangan mau kalah dengan RW sebelah. Biar warga bahagia,” kata Nobby.

Republika sempat mendapati salah satu warga, Eko Winarto sedang merokok di depan rumahnya. Eko yang bekerja sebagai penjual ketoprak sedang menata perabotan di gerobak dorong mengakui, ia memang merokok. “Tapi kan saya merokok di luar rumah? Tidak di dalam lagi,” ujarnya.

Eko berusaha mematuhi kesepakatan bersama yang dibuat warga Kampung Penas Tanggul. Menurut dia, warga senang saja dengan adanya petarutan tidak tertulis terkait larangan merokok di dalam rumah. Eko menyadari, merokok di dalam rumah bisa berdampak buruk bagi kesehatan anak dan istrinya yang menjadi perokok pasif.

Karena itu, ia pun mendukung pula ketika nanti warga dibuatkan tempat khusus untuk melokalisasi perokok agar asapnya tak dihirup anggota keluarganya. “Bagus-bagus saja dan saya mendukung kampung ini bebas asap rokok,” ujar Eko.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Iwan Kurniawan mengapresiasi terbentuknya Kampung Warna Warni Bebas Asap Rokok. Menurut dia, munculnya kesadaran dari kelompok atau komunitas di Kampung Penas Tanggul layak ditiru wilayah lain karena tujuannya sangat bagus. Dia menilai, gaya hidup bebas asap rokok memang perlu semakin digelorakan.

Hal itu lantaran aktivitas rokok memang tidak bagus bagi kesehatan dan asapnya sangat berbahaya kalau dihirup anak kecil. “Kami dari jajaran Suku Dinas Kesehatan berupaya memberikan sosialisasi terkait bahaya rokok. Kalau sekarang ada inisiatif deklarasi atau gerakan dari masyarakat, jelas kami mendukung,” ujar Iwan.

Menurut Iwan, Kampung Penas Tanggul merupakan wilayah pertama di Jakarta Timur yang mendeklarasikan diri bebas asap rokok di lingkungan permukiman warganya. Meski saat ini bebas asap rokok baru di dalam rumah, ia tetap mendukung gerakan itu meluas dan diikuti wilayah lain.

Dia menerangkan, kampanye menjaga kesehatan perlu semakin digencarkan di masyarakat. “Karena sama-sama kita tahu, hal seperti itu belum banyak (dilakukan di Jakarta). Ini bagus sekali dan kami dukung,” tutur Iwan.

 

Advertisements